Alunan Gendhing Jawa di Nanterre Ville

      Suara kendang menyentak membuka malam itu, Jumat 8 April 2016, ketika alunan gendhing mulai berkumandang di Aula Maison de la Musique de Nanterre sesaat sebelum matahari meninggalkan bumi. Malam ini kami berpartisipasi dalam acara Festival "La Terre est à nous" untuk menyajikan sebuah pertunjukan musik dan tari baik populer maupun klasik yang berasal dari Pulau Jawa. Festival ini merupakan ajang tahunan pementasan musik dan tari dari berbagai belahan dunia yang diselenggarakan oleh Mairie de Nanterre, Maison de La Musique-Nanterre, Philharmonie de Paris, SUAPS et Service de l'action culturelle de l'université Paris-ouest Nanterre. Sebuah pertunjukan seni yang dikemas dalam aneka sajian bentuk pementasan khas dengan kearifan lokal masing-masing negara yang berpartisipasi dalam festival ini

      Penonton sudah memadati ruangan sewaktu para penari cilik memasuki arena pentas dan membawakan Tari Gebyar Batik. Iringan gendhing Gambang Suling menemani langkah-langkah dan gerak-gerik para penari membuka acara malam itu. Tarian ini merupakan sebuah karya terbaru dari Kadek Puspasari Moure yang bercerita tentang kehidupan para pembatik dan kelincahan mereka ketika bercengkrama saat sedang membuat sebuah kain batik. Motif kain batik yang dipakai oleh para penari kali ini adalah motif Megamendung yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Simbol megamendung diambil dari gambar awan di langit saat cuaca sedang mendung dengan gradasi warna tujuh rupa. Megamendung mengandung makna kepemimpinan yang mengayomi dan bijaksana yang menjadi penyejuk hati. Tangan-tangan mungil para penari bergerak di atas kain batik menggambar dan mewarnai sebuah kain mori sehingga menghasilkan sebuah karya yang indah.

 Rose Dufort

Rose Dufort

      Acara dilanjutkan dengan penampilan sejumlah siswa College Andre-Doucet yang membawakan sepenggal kisah Ramayana. Tetiba panggung menjelma menjadi sebuah miniatur panggung kecak seperti di Bali. Sejumlah anak-anak Prancis bergantian menampilkan adegan demi adegan dan menuturkan kisah ini dalam bahasa Prancis dengan diiringi gending-gending sederhana. Sungguh luar biasa melihat apresiasi mereka terhadap budaya Indonesia. Hanya dengan lima kali latihan mereka mampu membawakan sebuah karya besar dalam kekayaan budaya Indonesia. Christophe Moure mengenalkan dan mengajarkan nilai-nilai budaya Indonesia melalui roleplay sebuah drama klasik pendek yang diambil dari kisah Ramayana.

 Joe Tanjung

Joe Tanjung

      Lembayung semakin menurun dan langit semakin gelap ketika suara bonang mengawali gending mengiringi Tari Golek Tirtokencono membelah kesunyian malam. Empat penari wanita menampilkan sebuah karya tari klasik gaya Surakarta yang bercerita tentang kehidupan putri-putri yang tinggal di istana dalam kesehariannya. Alunan musik yang lebih lembut ditingkahi suara merdu para sindhen yang menyanyikan lirik lagu pengiring tari ini. Syair yang terdapat dalam nyanyian pengiring tari ini mengandung makna pesan untuk setiap wanita agar selalu menjaga diri dan sikap ketika mereka menjalankan perannya masing-masing dalam bahtera kehidupan.

 Joe Tanjung

Joe Tanjung

 Joe Tanjung

Joe Tanjung

      Rasanya suasana kraton Surakarta terasa hidup saat para niyaga memainkan gendhing gerong ketawang Sri Narendra setelah penampilan tari Golek Tirtokencono tadi. Alunan bunyi saron, demung, kenong, kempul, gong, kendang, bonang dan gender terdengar harmonis mendayu-dayu. Ah sesaat saya jadi lupa bahwa saya sedang berada di Prancis dan bukan di Surakarta. Lirik-lirik gendhing ini mengingatkan saya akan petuah-petuah yang pernah disampaikan oleh para pinisepuh ketika saya menjalani malam midodareni. Terharu, bangga, dan bahagia bercampur-aduk sampai gong berbunyi menandai akhir dari alunan gendhing klasik ini.

 Joe Tanjung

Joe Tanjung

       Siapa yang menyangka bahwa malam itu gendhing Kebogiro membahana mengiringi kolaborasi Tari Silat Melayu dari Malaysia dengan Tari Jathilan dari Ponorogo. Gendhing ini biasanya ditampilkan ketika tamu-tamu baru datang memasuki ruangan dalam sebuah acara pernikahan atau pesta hajat masyarakat Jawa. Dalam kesempatan kali ini Kadek Puspasari Moure, Audran Le Guillou, dan Christophe Moure mengemasnya menjadi sebuah karya yang ciamik yang memadukan unsur budaya seni beladiri yang berasal dari Malaysia dan unsur budaya tari dari daerah Ponorogo dengan alunan musik yang berasal dari daerah Jawa Tengah. Jathilan yang dibawakan oleh Kadek Moure terasa lebih dinamis dan atraktif. Demikian pula halnya dengan gerakan silat yang ditampilkan oleh Audran. Keduanya berharmonisasi dalam seni tari dan musik menyampaikan pesan budaya yang luhur. Sungguh luar biasa malam itu. Tepuk tangan penonton bergemuruh ketika kedua penari ini melakukan sembahan mengakhiri pementasan karya mereka. Hmmm kapan lagi saya bisa menikmati pertunjukan langsung pagelaran tari dan musik tradisional Jawa di luar tanah air?

 Joe Tanjung

Joe Tanjung

 Joe Tanjung

Joe Tanjung

      Malam semakin larut. Suara kendang membahana saat para penari Tari Lengger Gunungsari memasuki panggung pertunjukan. Dara-dara manis yang berambut hitam dan pirang melenggang lemah gemulai mengikuti tabuhan suara kendang menampilkan sebuah tarian rakyat yang berasal dari daerah Banyumas. Liukan tubuh gemulai dan lemparan selendang berwarna-warni menjadi ciri khas tarian ini. Tempo musik semakin cepat manakala para penari mengundang penonton untuk menari bersama di atas panggung. Mungkin kesempatan ini menjadi ajang representasi berpadunya penonton dan para artis pendukung dalam pertunjukan ini. Bahwa dalam seni tidak ada jarak sosial dan harmonisasi tercapai karena apresiasi penonton yang tinggi terhadap karya seni yang ditampilkan.

 Joe Tanjung

Joe Tanjung

 Joe Tanjung

Joe Tanjung

 Joe Tanjung

Joe Tanjung

      Mungkin Anda akan membayangkan bahwa semua pengrawit, penari, dan waranggana adalah orang Jawa asli karena irama musik yang mengalun begitu merdu dan indah. Tapi saya yakin Anda akan terkejut ketika menyaksikan bahwa sebagian artis adalah pemusik-pemusik yang berasal dari Prancis dan berbagai negara lainnya. Kolaborasi tidak hanya dalam bentuk tari tetapi juga kebangsaan dari seluruh pendukung acara pementasan kali ini. Latihan gamelan yang dikomandani oleh Christophe mengakomodir semua musisi mulai dari yang amatir sampai pemusik profesional. Mulai dari belajar gending sederhana sampai mampu mengiringi sebuah tarian klasik. Bukan hal yang mudah mengajarkan cara memainkan sebuah alat dalam satu unit gamelan beserta sistem musik yang ada dalam gendhing Jawa kepada orang-orang yang belum pernah mendengarkan gendhing Jawa sebelumnya. Bermain musik dalam gamelan Jawa merupakan sebuah upaya kelompok yang memerlukan keselarasan, keserasian, dan ketajaman rasa seni dalam memainkan instrumen musik yang ada.

      Begitu pula halnya dengan tarian. Latihan tari demi menjaga kekompakan gerak dilakukan secara intensif walaupun mengorbankan hari libur yang seharusnya diisi bersama keluarga. Harmonisasi tari kelompok sulit dicapai jika masing-masing penari mempertahankan egonya masing-masing. Di sinilah para penari belajar dan memperdalam semangat gotong-royong. Mereka tidak hanya berlatih untuk menambah kemahiran menggerakkan tangan, kaki, dan mata, tetapi juga tanggap sasmita terhadap kekuatan dan kelemahan diri masing-masing. Hal yang tidak kalah penting lainnya adalah berkomunikasi dengan penonton untuk menyampaikan pesan yang terkandung di dalam tarian tersebut. Kearifan lokal budaya Jawa yang terkandung dalam sebuah tarian harus dapat tersampaikan dengan baik dan dipahami oleh penonton agar seni selalu mendapat tempat di hati masyarakat di manapun dan kapanpun sebuah karya seni itu ditampilkan.

      Malam ini saya hadir sebagai seorang penonton yang bangga dengan upaya yang dilakukan oleh teman-teman pemusik yang tergabung dalam asosiasi Pancha Indra. Saya perempuan jawa yang sedang merantau jauh dari tanah Jawa larut dalam kerinduan suasana tanah air. Ingin rasanya meneteskan air mata ketika semua penonton yang mayoritas orang Prancis bertepuk tangan dan menghargai pertunjukan yang ditampilkan saat itu. Kerinduan semakin membuncah di dada seiring dengan bunyi gong mengakhiri pementasan yang dilakukan sekelompok pecinta budaya Jawa di tanah Prancis. Sampai nanti saat kami kembali menemani waktu-waktu Anda dengan alunan gendhing-gendhing merdu dari tanah Jawa.

A bientot!